DEWI INDAH PUSPA RINI
STIKES HANG TUAH SURABAYA
091.0014
PRODI S1/2B
OKSITOSIK
Atau
UTEROTONIKA
Pengertian Uterotonika :






Respon terhadap uterus bertingkat → mulai kontraksi uterus , ritmis sampai tetani
Anatomi Fisiologi Uterus
Anatomi Fisiologi Uterus
Obat-obat uterotonika :



Alkaloid ergot
ü Berdasarkan efek dan struktur kimia alkaloid ergot dibagi menjadi 3 Kelompok : (1) alkaloid as amino (ergotamin), (2) derivat dihidro alkaloid as amino (dihidro ergotamin), (3) alkaloid amin (ergonovin)
ü Ergot mengandung: alkaloid ergot dan zat lain ( karbohidrat, gliserida, steroid, asam amino, amin, basa amonium kuaterner)
ü Keracunan ergot dapat menyebabkan → abortus
ü Batas kontaminasi gandum oleh ergot adalah: < 0,3%
ü Alkaloid pertama yang ditemukan adalah: ergotoksin → merupakan campuran: ergokristin, ergokornin, alfa ergokriptin dan beta ergokriptin
ü Ergotamin merupakan obat yang paling kuat dari kelompok alkaloid asam amino
ü Uterotonika yang larut air : ergonovin (ergometrin)
ü Farmakokinetik :
Ergotamin diabsorpsi secara lambat dan tidak sempurna melalui saluran cerna.
Obat ini mengalami first pass metabolism sehingga kadar dalam darah sangat rendah
Peak level dicapai dalam 2 jam. Pemberian bersama kafein akan meningkatkan absorpsi
ü Farmakokinetik
Dosis efektif IM adalah 1/10 dosis peroral, tp absorpsi lambat, sekitar 20 menit
Dosis IV adalah ½ IM, efek diperoleh dlm waktu 5 menit.
Ekskresi 90 % melalui empedu.
Sebagian kecil obat yg tidak dimetabolisme diekskresikan melalui urine dan feses
Metabolisme dan ekskresi ergonovin berlangsung lebih cepat dari pada ergotamin.
ü Farmakodinamik
Efek pada uterus:
· Semua alkaloid ergot → meningkatkan kontraksi uterus secara nyata
· Dosis kecil menyebabkan kontraksi, dosis besar menyebabkan tetani
· Kepekaan uterus tergantung maturitas dan kehamilan
· Sediaaan ergot paling kuat: ergonovin
Efek Kardiovaskuler:
· Menyebabkan vasokontriksi perifer
· Pembendungan dan trombosis pada gangren dapat terjadi akibat vasokontriksi
· Efek paling kuat: ergotamin, sedang (dihidroergotamin), tidak berefek (dihidroergotoksin)
Efek Arkaloid Ergot
Efek Arkaloid Ergot
Efek Samping Ergot
· Toksik → keracunan akut dan kronik
· Paling toksik → ergotamin
· Gx keracunan: mual, muntah, diare, gatal, kulit dingin, nadi lemah dan cepat, bingung dan tidak sadar
· Dosis keracunan fatal: 26 mg per oral selama beberapa hari, atau dosis tunggal 0,5-1,5 mg parenteral
· Gejala keracunan kronik: perubahan peredaran darah ( tungkai bawah, paha, lengan dan tangan jadi pucat), nyeri otot, denyut nadi melemah, gangren, angina pectoris, bradikardi, penurunan atau kenaikan tekanan darah
Keracunan biasanya disebabkan: takar lajak dan peningkatan sensitivitas
ü Indikasi
v Indikasi oksitosik
(1) Induksi partus aterm, (2) Mengontrol perdarahan dan atoni uteri pasca persalinan, (3) Merangsang kontraksi uterus setelah operasi caesar maupun operasi uterus lain, (4) Induksi abortus terapeutik, (5) Uji oksitosin, (6) Menghilangkan pembengkakan payudara.
v Pengobatan migren
v Migren → etiologinya multifaktor (emosi, stress fisik, diet, hormonal)
v Pemberian analgesik perlu dicoba dulu sebelum ergotamin (toksik)
v Ergotamin menghilangkan 95% migren dan 15% sakit kepala lainya
v Dosis: 0,25-0,5 mg SK atau IM
ü Kontra indikasi
v Penderita sepsis
v Penyakit pembuluh darah : arteritis, arteriosklerosis, koroner, tromboflebitis.
v Wanita hamil
v Penyakit hati dan ginjal
ü Efek Samping
Ø Alkaloid ergot sangat toksik
Ø Ergotamin merupakan alkaloid yang paling toksis
Ø Dosis besar dapat menyebabkan mual, muntah, diare, gatal, kulit dingin, nadi lemah dan cepat, bingung dan tidak sadar.
Ø Keracunan dapat terjadi dengan dosis 26 mg per oral selama beberapa hari atau 0,5 – 1,5 mg parenteral.
Ø Toksisitas ergonovin ¼ kali alkaloid asam amino
ü Terapi ergotisme
§ Penghentian pengobatan
§ Pemberian terapi simptomatis : mempertahankan aliran darah ke jaringan : antikoagulan, na nitroprusid (vasodilator kuat)
§ Atropin atau antiemetik gol fenotiazin untuk menghilangkan mual dan muntah
Kalsium glukonat untuk menghilangkan nyeri otot.
ü Sediaan
o Ergotamin tartrat : tablet oral 1 mg, tablet sublingual 2 mg, lar obat suntik 0,5 mg/ml dalam ampul 1 ml.
o Ergonovin maleat : suntikan 0,2 mg/ml, tablet 0,2 mg, disimpan pada suhu dingin
o Metilergonovin maleat (methergin) : ampul 0,2 mg/ml, tablet oral 0,2 mg
o Metisergid maleat : tablet oral 2 mg.
o Ergotamin tartrat : 1 atau 2 mg + 100 mg kafein.
Oksitosin






o Hasil baik pada pemakaian parenteral
o Cepat diabsorbsi oleh mukosa mulut → Efektif untuk pemberian tablet isap
o Selama hamil ada peningkatkan enzim Oksitosinase atau sistil aminopeptidase → berfungsi mengaktifkan oksitoksin → enzim tersebut berkurang setelah melahirkan, diduga dibuat oleh plasenta
o Absorpsi: baik lewat mukosa hidung
o Distribusi: PP rendah
o Metabolisme: t ½ 1 – 9 menit
o Eliminasi: ginjal

Efek pada Uterus:
· Merangsang frekuensi dan kontraksi uterus
· Efek pada uterus menurun jika estrogen menurun
· Uterus imatur kurang peka thd oksitosin
· Infus oksitoksin perlu diamati → menghindari tetani → respon uterus meningkat 8 x lipat pada usia kehamilan 39 minggu
Efek pada mamae:
· Menyebabkan kontraksi otot polos mioepitel → susu mengalir (ejeksi susu)
· Sediaan oksitosin berguna untuk memperlancar ejeksi susu, serta mengurangi pembengkakan payudara pasca persalinan
Efek Kardiovaskuler:
· Relaksasi otot polos pembuluh darah (dosis besar)
· Penurunan tekanan sistolik, warna kulit merah, aliran darah ke ekstremitas menurun, takikardi dan curah jantung menurun
Farmakodinamik:
· IM: mula 3 – 5 menit, P: TD, L: 2 – 3 jam
· IV: M: segera, P: TD, L: 1 jam
· Inhal: M: menit, P: TD, L: 20 menit

Indikasi oksitosik
(1) Induksi partus aterm, (2) Mengontrol perdarahan dan atoni uteri pasca persalinan, (3) Merangsang kontraksi uterus setelah operasi caesar maupun operasi uterus lain, (4) Induksi abortus terapeutik, (5) Uji oksitosin, (6) Menghilangkan pembengkakan payudara

toksemia, disproporsi sefalofelfik, distres janin, hipersensitivitas, persalianan non vaginal yg telah diantisipasi, kehamilan (intranasal)





Suntikan pitocin brisi 10 unit USP/ml dapat diberikan IM atau IV
Semprot hidung berisi 40 unit USP/ml
Sub lingual berisi 200 unit USP per tablet
Prostaglandin
o Ditemukan dalam ovarium, miometrium, darah mens
o Post coitus juga ditemukan prostaglandin di vagina
o Dalam tubuh terdapat berbagai macam prostaglandin dan tempat kerjanya berbeda-beda
o Prostaglandin yang terdapat di uterus adalah PGE dan PGF.
o Penggunaan PG di kebidanan terbatas pada PGE2 dan PGF2α.
o Semua PGF merangsang kontraksi uterus baik hamil maupun tidak.
o PGE2 merelaksasi jaringan uterus tidak hamil tetapi memmperlihatkan efek oksitosik lebih kuat dari pada PGF2α pada kehamilan trimester II dan III
o PGE2 dan 15-metil PGF2 meningkatkan suhu tubuh.
o Dosis besar PGF2α menyebabkan hipertensi mlalui kontraksi pembuluh darah, sebaliknya PGE2 menimbulkan vasodilatasi.
o Sediaan :
o Karbopros trometamin : 15-metil PGF2α tersedia dalam bentuk suntikan 250 µg/ml.
o Dinoproston : PGE2 tersedia dalam suppositoria vaginal 20 mg.
o Gmeprost : analog alprostadil yang berefek oksitosik.
o Sulproston : derivat dinoproston.
o Indikasi :
(1) Induksi partus aterm, (2) Mengontrol perdarahan dan atoni uteri pasca persalinan, (3) Merangsang kontraksi uterus setelah operasi caesar maupun operasi uterus lain, (4) Induksi abortus terapeutik, (5) Uji oksitosin, (6) Menghilangkan pembengkakan payudara
Indikasi oksitosik
n Induksi partus aterm
Ø 10 unit oksitosin dilarutkan dalam 1 L dextrose 5 % = 10 mili unit/ml diberikan melalui infus dg kecepatan 0,2 ml/menit.
Ø Jika tidak ada respon selama 15 menit kecepatan dinaikan sampai 2 ml/menit
n Mengontrol PPP
Ø Penggunaan oksitosin sudah tidak dianjurkan lagi
Ø Penggunaan ergonovin atau metilergonovinlebih disukai karena toksisitasnya rendah, onset cept, durasi lama dosis 0,2 -0,3 mg IM atau 0,2 IV
Ø Pilihan lain PGF2α 250 µg IM
n Abortus terapeutik
Ø Abortus terapeutik pada kehamilan trimester I dilakukan dengna suction curretage.
Ø Pada trimester II dilakukan dengan penyuntikan NaCl hipertonik 20 % ke dalam amnion.
Ø Prostaglandin cukup efektif untuk menimbulkan abortus pada trimester II
Pmberian PGE2 20 mg dalam bentuk vaginal suppositoria memberikan hasil yang efektif
n Uji Oksitosin (Challenge test)
Ø Digunakan untuk menentukan ada tidaknya insufisiensi utero-plasenta.
Ø Dilakukan terutama pada kehamilan dengan high risk, mis DM, Pre eklampsia dilakukan pada minggu terakhir sebelum persalinan.
Oksitosin diberikan per infus dengan kec 0,5 mili unit/menit kemudian ditingkatkan sampai terjadi kontraksi uterus tiap 3-4 menit.
n Menghilangkan pembengkakan payudara
Pada gangguan ejeksi susu, oksitosin diberikan intranasal 2-3 menit sebelum anak menyusu.
Referensi
- Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
- Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
- Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC
- Purwanto, SL., Istiantoro, Yati., Kurnia, Yasavati., Sembiring, SU., Effendi, R., & kamil (1992).
- Data obat di Indonesia edisi 8.Jakarta : PT Grafinda Jaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar